Loading...

punggung sudah seperti patah, pelupuk mata sudah sangat berat untuk dibuka. angka-angka masih beterbaran untuk dianalisa di monitor komputer di ruang kerjaku. beberapa batang rokok sudah tersisa jadi debu di asbak.

pandangan sudah berbayang, huruf-huruf sudah tidak jelas untuk dibaca. kadang aku harus memejamkan mata hanya untuk memberikan sedikit istirahat untuk mataku yang sudah mulai berair.

perjuangan ini harus tetap kulanjutkan walaupun sudah terseret dalam rasa kantuk yang luar biasa. audio dari piano yang saya rekam secara “live” saat bermain di sore tadi tetap berputar sebagai latar musik yang mengiringi perjuanganku.

aku harus tetap berjuang, kerja dan kerja. karena hanya itu yang aku mampu lakukan. 14-16 jam rata-rata kuhabiskan untuk melakukan 2 jenis pekerjaan. yang satu menjadi buruh untuk perusahaan dan yang satu lagi menjadi buruh untuk diri sendiri. demi menjaga agar kelak tetap bisa menjadi manusia produktif jika pekerjaan formal sudah tidak menjadi bagianku.

menepis lelah dan kantuk dan semua persoalan lainnya, fokus dan fokus bekerja keras.

kerja, kerja dan kerja. hanya itu bisaku.

By | 2017-07-01T13:17:03+00:00 June 18th, 2017|catatan kaki|Comments Off on menepis lelah dan kantuk, usaha keras demi harapan kecil
%d bloggers like this: